Menjadi Cukup.

 


Salah satu titik terparahku adalah ketika aku berhasil mendapatkan sesuatu yang, menurutku, tidak pantas aku terima. Waktu itu, aku berusaha mati-matian mengubah diri aku untuk menjadi "cukup". Awalnya, aku bisa berdiri tegak di prinsip-prinsipku. Kemudian, pendirian apa pun itu yang tadinya aku pegang kuat-kuat, malah kubuang jauh-jauh. Demi bisa memenuhi ekspektasi orang lain—dan diri sendiri.

Seakan belum cukup menderita, aku turut menambah beban untuk diriku sendiri. Selama berbulan-bulan, aku tak berhenti membandingkan diriku dengan orang lain, yang menurutku sangat jauh di atas aku—dan bahkan lebih layak untuk menerima apa yang aku punya. Tak ada satu hari pun di mana aku bisa menerima diriku sendiri. Tak ada hari yang terlewati tanpa memaki-maki diri sendiri karena aku "tidak seperti dia". Tak ada satu hari pun di mana aku bisa masuk kamar, melihat pantulan diriku di  cermin, dan tersenyum.

Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya merasa bahwa aku sudah “cukup” layak. Sayangnya, aku ternyata terlalu naïf. Hanya orang bodoh yang berasumsi dirinya layak, padahal tak ada validasi, bukan? Situasi memburuk. Yang selama ini membuat aku berusaha berubah menjadi "cukup" justru pergi--tepat ketika kukira aku sudah "cukup". Selama berminggu-minggu, aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena terlalu yakin. Bodoh. Aku tak menyadari bahwa usahaku sebenarnya sia-sia.

Beberapa bulan setelah fase itu, aku sadar. Aku melewati proses mengubah diri menjadi seseorang yang “bukan aku”. Lagi, aku berubah demi disenangi orang lain meskipun aku juga menderita kalau harus terus berubah dan berpura-pura.

Seharusnya, kalau aku ingin berubah, ya, “untuk aku”. Untuk aku yang lebih baik. Toh, kamu, aku—kita—jauh lebih berharga dari penilaian orang lain.

Aku masih sangat jauh dari merasa “cukup”. Namun, kali ini, aku sendiri yang menentukan standarnya. Kali ini, aku akan berusaha menjadi “cukup” demi kebaikan diriku sendiri.

Komentar