Menjadi Cukup.
Salah satu titik terparahku adalah ketika aku berhasil mendapatkan sesuatu yang, menurutku, tidak pantas aku terima. Waktu itu, aku berusaha mati-matian mengubah diri aku untuk menjadi "cukup". Awalnya, aku bisa berdiri tegak di prinsip-prinsipku. Kemudian, pendirian apa pun itu yang tadinya aku pegang kuat-kuat, malah kubuang jauh-jauh. Demi bisa memenuhi ekspektasi orang lain—dan diri sendiri. Seakan belum cukup menderita, aku turut menambah beban untuk diriku sendiri. Selama berbulan-bulan, aku tak berhenti membandingkan diriku dengan orang lain, yang menurutku sangat jauh di atas aku—dan bahkan lebih layak untuk menerima apa yang aku punya. Tak ada satu hari pun di mana aku bisa menerima diriku sendiri. Tak ada hari yang terlewati tanpa memaki-maki diri sendiri karena aku "tidak seperti dia". Tak ada satu hari pun di mana aku bisa masuk kamar, melihat pantulan diriku di cermin, dan tersenyum. Seiring berjalannya waktu, aku akhirnya merasa bahwa aku sudah...